Etalase Pemikiran Perempuan 2021

 

Etalase Pemikiran Perempuan 2021 (Etalase) adalah ruang sirkulasi pemikiran perempuan Nusantara di ranah seni budaya dengan semangat lintas disiplin, wilayah geografis, budaya, dan generasi. Etalase Pemikiran Perempuan merupakan inisiatif Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP), Jakarta, dan di tahun ketiganya, festival ini dilaksanakan bersama Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) yang berbasis di Pontianak, Kalimantan Barat. 

Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP) berawal dari serangkaian lokakarya proses kreatif berperspektif feminis yang digagas para pengelola hibah Cipta Media Ekspresi (CME),[1] hibah untuk perempuan pencipta, peneliti, dan pegiat komunitas di bidang seni dan budaya. Sejak tahun 2020, Sekolah Pemikiran Perempuan berdiri sebagai inisiatif independen dengan tujuan melakukan intervensi terhadap proses produksi pengetahuan yang meminggirkan, mengerdilkan, dan menghapus perempuan. SPP melakukan “pembangkangan epistemik” (epistemic disobedience) terhadap sistem pengetahuan yang bersifat kolonial, kapitalis, dan heteropatriarkis dengan menggarisbawahi peran perempuan di Nusantara—yang dalam konteks global merupakan perempuan Dunia Ketiga/ Selatan—sebagai subyek penting dalam penciptaan pengetahuan. Kegiatan SPP terfokus pada penyebaran dan pertukaran pengetahuan yang dihasilkan perempuan di Nusantara melalui kelas, ceramah, dan lokakarya di ruang publik.

Festival Etalase pertama di Yogyakarta 2019 terdiri dari pameran, pertunjukan, dan diskusi yang menampilkan hasil kerja empat puluh penerima hibah CME di tahun 2018-2019. Pada edisi kedua Festival tahun 2020, dilakukan secara daring dalam situasi pandemi, penyelenggara menampilkan beberapa alumni CME beserta para seniman, akademisi, dan aktivis perempuan di bidang seni maupun kajian budaya, sosial, politik, dan agama. 

 Etalase Pemikiran Perempuan 2021 masih diadakan secara daring dan kembali menampilkan program-program khas Etalase:

·       “Riwayatmu, Puan”: Narasi tentang riwayat hidup perempuan dalam sejarah seni budaya sebagai upaya interogasi terhadap historiografi yang meminggirkan perempuan.

·       “Diskusi panel” dan “Temu wicara”: Diskusi tentang wacana penting dalam praktik seni budaya -- membahas gagasan, persoalan akses, metode kerja, kolaborasi -- maupun isu sosial-politik lebih luas yang patut menjadi bagian dari pemikiran feminis.

·       “Bongkar Kata”: Ceramah singkat yang secara kritis membongkar kata kunci maupun kata yang populer di ruang publik dengan perspektif feminis.

·       Konser Ceramah: Paduan antara pertunjukan dan ceramah yang disampaikan perempuan pencipta di dunia musik. 

Tahun ini Etalase menampilkan satu forum diskusi dalam bahasa Inggris dengan penerjemahan sebagai upaya menjadi bagian dari jaringan solidaritas internasional.

Fokus utama festival akan tetap pada pertukaran pengetahuan dalam bahasa Indonesia. Keputusan memprioritaskan bahasa Indonesia diambil secara sadar sebab dalam konteks produksi pengetahuan global, akses terhadap pengetahuan yang dihasilkan perempuan dalam bahasa ini masih sangat terbatas.   

Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) dan Peretas merupakan mitra SPP dalam menyelenggarakan Etalase Pemikiran Perempuan 2021.

SAKA merupakan organisasi masyarakat sipil yang bergerak dalam isu kebhinnekaan, kedamaian, demokrasi, kepemimpinan, kemandirian, serta Hak Asasi Manusia. Ruang gerak SAKA adalah di bidang pendidikan, penelitian dan kajian strategis, serta kampanye dan advokasi kebijakan. Kolaborasi SPP dengan SAKA juga akan diwujudkan dalam bentuk penelusuran kegiatan dan pemikiran perempuan di bidang seni budaya di Kalimantan.

Peretas, kependekan untuk perempuan lintas batas, adalah kolektif yang bergerak melalui dan menuju politik solidaritas feminis antar perempuan pekerja seni di Indonesia. Program-program Peretas bertujuan mendukung terciptanya ruang produktif dan reproduktif bagi perempuan pekerja seni. Praktik mereka melibatkan kerja berbagi pengetahuan, perawatan kolektif, disensus yang demokratis, sensibilitas artistik, dan imajinasi radikal untuk mempertahankan dan memperbanyak ruang aman yang melawan praktik kekuasaan dominan.

Etalase Pemikiran Perempuan diharapkan tidak hanya sebagai ruang pameran karya dan pemikiran perempuan tetapi juga menjadi tempat para perempuan saling berkenalan, berbagi gagasan dan kecakapan, serta saling menopang.

 

 

 

 




[1] Pengelola hibah CME terdiri dari tujuh perempuan dari beragam latar yang menjalankan tugas penjurian proposal dan pendampingan proyek, serta tim manajemen dalam kerangka kerjasama dengan Wikimedia Indonesia. Ketujuh perempuan yang sama masih menjalankan kerja merawat hasil kerja/karya dari CME 2018/2019 lewat Sekolah Pemikiran Perempuan. Mereka adalah Andy Yentriyani, Cecil Mariani, Heidi Arbuckle, Intan Paramaditha, Lisabona Rahman, Naomi Srikandi dan Nya’ Ina Raseuki.