Pembicara | Speakers

  • Amar Alfikar

    Amar Alfikar adalah seorang aktivis keragaman iman, gender, dan seksualitas. Ia merupakan alumnus Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Asy’ariyah, mahasiswa pascasarjana jurusan Theology and Religious Studies di University of Birmingham, Inggris, dan penerima beasiswa Chevening 2021/2022. Ia juga penulis dan penyusun Tafsir Progresif Islam-Kristen terhadap Keragaman Gender dan Seksualitas (Gaya Nusantara, 2020) serta Melihat Lebih Dekat Situasi Trans pria di Indonesia: Aktualisasi Diri, Tantangan, dan Harapan (Transmen Indonesia, 2020).

  • Andy Yentriyani

    Andy Yentriyani adalah Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2020-2024. Andy menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, jurusan Hubungan Internasional dan Magister Program Media and Communications dari Goldsmiths University of London, Inggris. Salah satu ketertarikannya adalah mendokumentasikan cerita mengenai perempuan Indonesia, permasalahan dan perjuangannya bertahan. Ia juga merupakan salah satu pengelola Sekolah Pemikiran Perempuan dan Etalase Pemikiran Perempuan.

  • Anggun Pradesha

    Anggun Pradesha adalah seorang Seniman dan Sutradara Film Pendek sekaligus Pengurus Yayasan INTAN di Jakarta yang bergerak di Isu Inklusifitas Trans Perempuan. Pernah bekerja di beberapa organisasi sosial seperti Sanggar Swara dan PKBI Pusat. Karya-karya filmnya, “Emak dari Jambi” dan “Emak Menolak”, telah banyak diputar dan didiskusikan serta mendapatkan berbagai apresiasi dan penghargaan. Anggun juga membuat skenario untuk film teatrikal "Penghakiman Nama" yang ia perankan dari cerpen berjudul sama tentang kisah nyatanya saat menjalani sidang pergantian nama; ikut menulis dalam kumpulan puisi "Puandemik Menulis” (2021); serta menulis “Ketika Koma” yang terbit dalam Kumcer “Parade yang Tak Pernah Usai: Yang Lalu, Kini, dan Akan Menjadi” (2022). Saat ini, Anggun sedang merampungkan 3 film dokumenter pendek terbarunya.

  • Asfinawati

    Asfinawati adalah seorang praktisi hukum dan advokasi hak asasi manusia yang memulai kerjanya sejak 2000 di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta hingga menjabat Direktur pada 2006. Antara tahun 2017-2021, ia menjadi Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Asfinawati juga menerbitkan tulisan di media massa dan kumpulan artikel mengenai hukum pidana dan hak asasi manusia. Saat ini ia adalah anggota pengajar di STH (Sekolah Tinggi Hukum) Indonesia Jentera yang berbasis di Jakarta.

  • Aura Asmaradana

    Aura memperoleh gelar sarjana dari STF Driyarkara. Di sela aktivitasnya bekerja sebagai moderator Kompasiana.com, ia gemar menulis cerpen, esai, puisi, serta tertarik pada isu filsafat, sosial, budaya.

    Pada 2018, Aura bergabung dengan kolektif Ruang Perempuan dan Tulisan yang menelaah hidup dan karya perempuan penulis Indonesia, khususnya penulis cerpen dan naskah drama dari Sumatera Barat, Saadah Alim. Pada 2019, Aura mengikuti program Residensi Penulis Indonesia di Dili, Timor-Leste.

  • Dewi Kharisma Michellia

    Dewi Kharisma Michellia menulis novel, reportase, dan cerita pendek dan berprofesi sebagai penulis, penerjemah, dan editor. Karya-karyanya yang telah terbit di antaranya novel Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya (2013) dan kumpulan cerita pendek Elegi (2017). Pada 2018, ia terlibat di Ruang Perempuan dan Tulisan, kolektif dengan misi membaca kembali dan mengkaji karya-karya para perempuan penulis di Indonesia. Saat ini, ia aktif mengasuh situs kritik sastra tengara.id yang dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta selaku redaktur pelaksana.

  • Eka Putri Puisi

    Sejak 2015, Eka Putri Puisi aktif menginisiasi dan terlibat dalam kerja-kerja komunitas Katutura yang konsen dalam isu seni kultural dan lingkungan. Bersama kawan-kawan melakukan berbagai upaya penelusuran termasuk riset-riset kecil secara mandiri; kemudian mengarsipkannya dalam bentuk tulisan maupun karya, dengan tujuan merawat jejak aktivitas seni budaya leluhur di masa lampau yang masih relevan untuk masa kini.

  • Elahe Zivardar

    [EN] Elahe Zivardar is an Iranian artist, architect, journalist and documentary filmmaker who was imprisoned by the Australian government in Nauru from 2013-2019. She was accepted as a refugee by the US in 2019 and currently lives and works in Washington DC. While detained in Nauru she was highly active in using photos and video to document the horrific treatment and conditions endured by people seeking asylum and being imprisoned offshore. Elahe continues to actively advocate for the freedom of the remaining detainees, and against the adoption of similar refugee detention policies by other countries, through her art, documentary filmmaking, animation, journalism, publications and as an advisor to multiple refugee rights campaigns in Australia, the UK and EU.

    [ID] Elahe Zivardar adalah seniman, arsitek, jurnalis, dan pembuat film dokumenter berkebangsaan Iran yang dipenjarakan oleh pemerintah Australia di Nauru dari 2013-2019. Dia diterima sebagai pengungsi oleh AS pada 2019 dan saat ini tinggal dan bekerja di Washington DC. Saat ditahan di Nauru, dia sangat aktif menggunakan foto dan video untuk mendokumentasikan perlakuan dan kondisi mengerikan yang dialami oleh orang-orang yang mencari suaka dan dipenjarakan di lepas pantai. Elahe secara aktif mengadvokasi kebebasan para tahanan dan menentang penerapan kebijakan penahanan pengungsi serupa oleh negara lain. Ia terus melakukannya hingga saat ini melalui karya-karya seninya, pembuatan film dokumenter, animasi, jurnalisme, publikasi dan sebagai penasihat berbagai kampanye hak-hak pengungsi di Australia, Inggris dan Uni Eropa.

  • Gema Swaratyagita

    Gema Swaratyagita, adalah seorang musisi, komponis, pengajar musik dan performer yang karyanya banyak bereksplorasi di ranah seni interdisipliner. Sebagai komponis, karya-karyanya pernah dimainkan di sejumlah event, sebut saja Holland Festival, Yogyakarta Contemporary Music Festival, Pekan Komponis Indonesia, Solo International Gamelan Festival, Djakarta Theater Platform, Musim Seni Salihara, dan Sound Bridge Virtual 2021. Perempuan yang pernah mendapatkan EWA Kelola dan beasiswa residensi pegiat budaya ke Selandia Baru ini mendirikan Laring Kolektif sebagai aktivitas kekaryaan berbasis bunyi, musisi dan seniman kolektif, yang berfokus pada kerja kolaborasi lintas disiplin. Selain berkarya dan mengajar, ia juga merupakan direktur Pertemuan Musik dan salah satu penggagas Perempuan Komponis Forum & Lab.

  • Himas Nur

    Himas Nur aktif menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa karyanya mukim dalam antologi bersama, di antaranya Parade yang Tak Pernah Usai: Yang Lalu, Kini, dan Akan Menjadi (2022), Kabar dari Angin (2022), Membisikkan Bekal untuk Perjalanan yang Sangat Jauh: Pendekatan Feminis dalam Kerja Seni Budaya (2021), Narasi Perempuan dan Interseksionalitas: Politik, Hukum dan Ekonomi (2021), serta Membunuh Binerisme Gender (2020). Kini tengah tercatat sebagai mahasiswa Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM.

  • Hyphen —

    Pada 2011, Ratna Mufida, Pitra Hutomo, dan Grace Samboh menggagas Hyphen — sebagai ruang percakapan yang berkesinambungan mengenai masa lalu praktik estetik di sekitar mereka. Tak berapa lama kemudian, Hyphen — memperluas ruang percakapan tsb dengan melibatkan diri dalam beragam kegiatan artistik mulai dari pembuatan pameran, bermacam penerbitan, kerja pengarsipan dan penelitian, percakapan terbuka, karaoke, bakar-bakar serta makan-makan, dan lain sebagainya. Cita-cita Hyphen — adalah mengedepankan rasa penasaran dan kesejahteraan hidup bersama sebagai muara dari kerja-kerja kesenian. Sejak 2020, Akmalia Rizqita “Chita” dan Rachel K. Surijata ikut bergerak bersama Hyphen —.

    Sekarang, mereka berulang-alik antara kerja penelusuran praktek artistik Seni Rupa Baru (1975-1989), Kustiyah (1935-2012), dan Danarto (1940-2018); sejarah penyelenggaraan pameran Kesenian Indonesia (1955), BINAL Experimental Arts (1992), dan Pameran Seni Kontemporer Negara-negara Non-Blok (1995); sembari berusaha mengaji apa yang disebut sebagai sejarah Indonesia melalui benda-benda kerupaan.

  • Insany Syahbarwaty

    Insany Syahbarwaty telah bekerja selama 23 tahun sebagai jurnalis berbagai platform media, mulai dari TV, radio, sampai media cetak dan online di Maluku. Ia aktif mengadvokasi berbagai kasus kekerasan terhadap jurnalis. Ia juga pernah menjadi Kepala Biro iNews TV Ambon; Manajer Konten TribunAmbon; Pendiri dan mantan Ketua AJI Ambon; serta mantan Program Manajer Media Centre KPU Maluku. Saat ini, Insany masih menjabat sebagai Program Manajer dan Koordinator Divisi Non Litigasi LBH Pers Ambon, juga memiliki serta menjalankan media online TerasMaluku dan Ambonkita.com. Ia juga sedang menyelesaikan program Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercubuana.

  • Kanzha Vinaa

    Kanzha Vinaa adalah seorang transpuan, aktivis, dan feminis. Saat ini dirinya menjabat sebagai ketua dari Sanggar Swara dan secara aktif memperjuangkan hak-hak LGBTIQ+ semenjak tahun 2011. Pada tahun 2016, dirinya juga pernah mewakili Forum LGBTIQ Indonesia dalam menerima penghargaan Suardi Tasrif Award bagi kebebasan berekspresi dari Aliansi Jurnalis Independen. Saat ini dirinya aktif sebagai mahasisiwi di STHI Jentera.

  • Kelas Liarsip

    Kelas Liarsip merupakan kelompok belajar virtual dimana fokus perhatian studinya pada arsip film, restorasi dan sejarah para puan dalam sinema Indonesia. Kelas ini mulai berdiri sejak Maret 2021. Liarsip dijalankan oleh 6 perempuan dan non-biner dengan latar belakang beragam, namun diikat oleh keresahan dan perhatian yang sama. Mereka adalah: Efi Sri Handayani (arsiparis film dan ilustrator), Julita Pratiwi (akademisi film dan periset), Lisabona Rahman (arsiparis film), Umi Lestari (akademisi film/ sejarawan film/ kurator), Imelda Mandala (fotografer), Siti Anisah (manajer arsip film).
 Liarsip meminjam tradisi lama akan kelas liar sebagai bagian dari strategi mengorganisir pergerakan progresif yang ada di Indonesia sejak awal abad ke-20. Nama kelompok ini merupakan singkatan gabungan dari ‘kelas liar’ dan ‘arsip’.

  • Lan Duong

    [EN] Lan Duong is Associate Professor in Cinema and Media Studies at the University of Southern California and a founding member of the Critical Refugee Studies Collective and manages the CRSC website (www.criticalrefugeestudies.com). The author of Treacherous Subjects: Gender, Culture, and Trans-Vietnamese Feminism, Dr. Duong’s second book project, Transnational Vietnamese Cinemas and the Archives of Memory, examines Vietnamese cinema and its history.

    [ID] Lan Duong adalah Associate Professor di University of Southern California Jurusan Kajian Film dan Media; anggota pendiri dari Critical Refugee Studies Collective, dan pengelola situs web CRSC (www.criticalrefugeestudies.com). Ia telah menulis buku “Treacherous Subjects: Gender, Culture, and Trans-Vietnamese Feminism”, dan kini proyek buku keduanya yang mengkaji sinema Vietnam dan sejarahnya adalah “Transnational Vietnam Cinemas and the Archives of Memory”.

  • Linda Tagie

    Linda Tagie (lindatagie) adalah penyintas kekerasan seksual yang menggunakan seni sebagai media untuk memulihkan diri. Ia adalah seorang aktor, penulis, dan juga pendiri Komunitas Lowewini, sebuah komunitas dan ruang aman bagi penyintas kekerasan seksual berbasis seni budaya di Kupang, NTT.

    Linda merupakan satu dari lima puluh perempuan pekerja seni dalam Peretas Berkumpul 01: PAKAROSO di Poso pada 2019; penerima beasiswa Sekolah Ekofeminis Tanah Air 2021; salah satu peserta Lokakarya Virtual Penulisan Kreatif: Sejarah Lokal dari Perspektif Perempuan yang diselenggarakan oleh Perkawanan Perempuan Menulis; satu di antara lima belas penulis buku “Membisikkan Bekal untuk Perjalanan yang Sangat Jauh”; dan merupakan salah satu awardee Indonesian Young Leader Programme 2022 oleh Union Aid, New Zealand.

  • Magdalena Sitorus

    Magdalena Sitorus lahir pada 27 Oktober 1952. Telah berpengalaman panjang menggeluti isu perempuan, anak-anak, dan kelompok minoritas; baik melalui kerja advokasi maupun kerja kepenulisan. Dalam perjalannya, terlibat mengurus sejumlah lembaga, di antaranya: Dewan Pengawas Lembaga Arus Pelangi (2018–2022), Komisioner Komnas Perempuan/ Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (2015–2019), dan Direktur Lembaga SIKAP (Solidaritas Aksi Korban Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan) (1996–2004). Selain itu, sejumlah buku pun telah diterbitkan, antara lain Semua Ada Waktunya (2012), dua buku Seri Perempuan Penyintas 1965; Onak dan Tari di Bukit Duri: Catatan Harian tentang Utati (2021) dan Taburan Kebaikan Di Antara Kejahatan: Catatan Harian tentang Uchikowati (2021).

  • Mariati Atkah

    Mariati Atkah adalah seorang penulis puisi, esai, cerpen dan cerita anak. Pada tahun 2013, ia terpilih untuk menghadiri Makassar International Writers Festival (MIWF) sebagai salah satu emerging writer dari Indonesia Timur. Ia pernah pula terlibat residensi bertajuk Weaving Stories, program kemitraan antara Rumata’ ArtSpace dengan British Council Indonesia. Dari program ini, terbit buku anak berjudul Tenri dan Kisah Jari-Jari.

    Selama Laut Masih Bergelombang merupakan buku puisi tunggalnya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, dan menjadi salah satu nomine Penghargaan Sastra kategori puisi yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi pada tahun 2021.

  • Riyana Rizki

    Riyana Rizki lahir di Masbagik, 16 Juli. Ia menulis Kumcer Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan (Buku Mojok, 2021). Selain mengajar, ia berkegiatan di Sanggar EKS dan menjadi relawan di Yayasan Saling Jaga Indonesia.

  • Rully Mallay

    Rully Mallay lahir di Watampone, Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tahun 1961. Ia menghabiskan masa kecil di Surabaya, Jawa Timur dari TK hingga SLTP, lalu mulai merantau ke Majene, Sulsel ketika masuk Sekolah Pendidikan Guru dan tamat pada 1978. Pada 1978–1987, ia menjadi guru SD di Sumba Barat. Kemudian, ia sempat masuk ke parpol dan terpilih sebagai anggota legislatif di daerah tingkat dua di Bone pada 1987–1993. Sejak 1994 hingga 2003, ia mengelola sebuah Training Center di Bogor. Ia juga menjadi relawan pasca Tsunami di Aceh pada 2004–2005 dan sejak 2006 hingga sekarang menjadi relawan di Yayasan Kebaya Yogyakarta.

  • Warsan Weedhsan

    [EN] Warsan Weedhsan is an African writer and co-director of the archipelago writers collective in Jakarta. Her writing aims to uncover the social and cultural problems facing refugees and to support women to stand against discrimination. She is a community leader for the African refugee community.

    [ID] Warsan Weedhsan adalah penulis Afrika dan salah satu direktur kolektif penulis "archipelago" di Jakarta. Tulisannya bertujuan mengungkap masalah sosial dan budaya yang dihadapi pengungsi serta mendukung perempuan untuk melawan diskriminasi. Dia adalah pemimpin komunitas dari komunitas pengungsi Afrika.

  • Yulia Dwi Andriyanti

    Yulia Dwi Andriyanti, perempuan queer Muslim, penulis, penggerak komunitas dan peneliti independen. Pengalamannya beraktivisme sejak 2008 meliputi hak asasi perempuan, hak LBTIQ (Lesbian, Biseksual, TransFtM/Translaki-laki, Interseks dan Queer) dan interseksi antara seksualitas dan keimanan. Ia salah satu pendiri Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) pada 2010, organisasi feminis-queer Qbukatabu pada 2017, dan Akar Rumput -koperasi untuk LBTIQ di Bandung, pada 2020. Setelah menempuh pendidikan master Gender, Seksualitas dan Ketubuhan di University of Leeds, Inggris, minatnya untuk melanjutkan penelusuran terhadap pemikiran, ingatan dan aktivis gerakan LBTIQ terus tumbuh.

    Beberapa karyanya meliputi dokumenter Children of Srikandi (2012), buku Tutur Feminis Meluruhkan yang Biner (2019), video Rindu Berat Sang Kucing (2020), antologi tulisan penggerak feminis queer Cerita Sehari Hari-Hari Diri dan Semua yang Mengitari (2021), dan video Translaki-laki Bicara Seroja (2022).

  • Kartika Solapung

    Kartika Solapung, penyanyi dan aktor, bergiat di Komunitas KAHE Maumere dalam kerja-kerja kesenian dan kebudayaan, dan menangani manajemen Komunitas KAHE. Tahun 2019 menjalani residensi di Teater Garasi/Garasi Performance Institute Yogyakarta dalam program AntarRagam. Tahun 2020-2021 terlibat dalam kerja kesenian bersama warga Kampung Wuring, melakukan riset mengenai kehidupan perempuan melalui gastronomi dan kuliner tradisional. Hasil riset dan kerja kolaboratif ini termuat dalam buku resep (digital) berjudul Susurang Esse (2021). Beberapa tulisan dimuat di website Laune.id. Nov'2021- Feb'2022 menjalani residensi Marantau di Yogyakarta, program dari Goethe-Institut Indonesien dan menghasilkan sebuah karya musik 'Siaran Suara' (bisa akses di https://bit.ly/Siaran-Suara-Kartika-Solapung).

Pemandu Panel | Moderator

  • Cecil Mariani

    Cecil Mariani adalah seorang perancang, seniman, peneliti di Prakerti kolektif inteligensia, aktivis budaya dan pengajar di Insitut Kesenian Jakarta. Ia belajar Desain Grafis di Universitas Pelita Harapan dan meraih gelar magister MFA dari School of Visual Art, New York.

  • Citra Maudy

    Citra Maudy adalah seorang penulis dan peneliti kelahiran Sidoarjo, tahun 1998. Ia belajar sosiologi dan aktif di organisasi pers mahasiswa bernama Balairung selama menempuh pendidikan tinggi.

    Citra memiliki ketertarikan dengan isu gender, media, dan buruh. Tahun 2018, ia pernah menuliskan laporan jurnalistik mengenai kekerasan seksual di kampus. Pengalaman tersebut mengantarkannya untuk memperdalam isu gender. Ia pun mengikuti sekolah menulis sejarah perempuan lewat cerpen yang diselenggarakan Perempuan Menulis pada tahun 2020. Cerpennya bisa dibaca di website Perempuan Menulis.

    Saat ini, ia telah menerbitkan tugas akhirnya sebagai buku dengan judul Yang Tidak Banyak Dikatakan soal Pekerja Media bersama penerbit independen Litani Literasi yang berbasis di Jogja.

  • Heidi Arbuckle-Gultom

    Heidi Arbuckle-Gultom adalah peneliti dan praktisi pengembangan kebijakan pembangunan. Ia sedang bekerja sebagai direktur program The Asia Foundation di Timor-Leste. Ia pernah bekerja sebagai Deputy Chief of Party untuk proyek Indonesia Harmoni dan memimpin program Ford Foundation Indonesia untuk masyarakat sipil, media, seni dan budaya selama dua belas tahun. Ia meraih gelar Doktor dari Universitas Melbourne dengan penelusurannya terhadap pelukis Emiria Soenassa dan penulis buku Taring Padi: the Politics of Radical Cultural Practice in Indonesia.

  • Ilda Karwayu

    Ilda Karwayu menulis puisi, fiksi, dan non- fiksi; telah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi, yakni Eulogi (PBP, 2018) dan Binatang Kesepian dalam Tubuhmu (GPU, 2020). Aktif bergiat sebagai Manajer Program di Komunitas Akarpohon Mataram, sebuah lingkungan kerja kolektif bagi pegiat seni, khususnya sastra, di Mataram.

  • Intan Paramaditha

    Intan Paramaditha adalah penulis fiksi dan akademisi. Ia mendapat gelar doktor dari New York University dan mengajar Kajian Media dan Film di Macquarie University, Sydney. Novelnya Gentayangan (The Wandering) terpilih sebagai karya sastra prosa terbaik Tempo dan mendapat penghargaan English PEN Translates Award, PEN/ Heim Translation Fund Grant, dan nominasi The Stella Prize di Australia. Ia merupakan salah seorang penggagas Sekolah Pemikiran Perempuan dan mengelola Etalase Pemikiran Perempuan.

  • Keni Soeriaatmadja

    Keni Soeriaatmadja lulus dari Studio Keramik FSRD ITB (2002). Ia menerima Ganesha Prize Award, beasiswa modul singkat Museologi di The Amsterdam School of The Arts. Keni menyelesaikan magister Antropologi di UNPAD tahun 2019 dan tergabung dalam Arts Leaders program, The Australia Council for the Arts tahun 2021. Bersama Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp ia mengembangkan DokumenTARI, platform story-telling yang diharapkan menjadi sumber kajian pelaku tari Indonesia. Keni merupakan anggota Koalisi Seni dan alumni Sekolah Pemikiran Perempuan 2022.

  • Lisabona Rahman

    Lisabona Rahman menempuh pendidikan ilmu hubungan internasional dengan minat terhadap persoalan perempuan. Ia juga seorang sukarelawan penerjemahan. Bersama almarhum Bambang Agung, ia menerjemahkan buku Shulamit Reinharz, Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial (WRI, 2005). Antara 2001 - 2011, ia mengelola proyek presentasi film, arsip dan karya perempuan. Lisabona kemudian menempuh pendidikan pelestarian film dan kuratorial di Belanda, serta bekerja sebagai teknisi restorasi film di Italia sampai 2016. Setelah itu ia bekerja lepas membuat proyek restorasi, perawatan film, pemutaran dan forum pertukaran pengetahuan.

  • Luna Kharisma

    Luna Kharisma, lahir dan tumbuh di Surakarta. Saat ini aktif sebagai pelaku seni pertunjukan, khususnya dalam bidang teater. Karya-karyanya berfokus pada isu dan persoalan perempuan dalam sendi kehidupan hari ini: Di Dalam Rumah #1 (2015), Di Dalam Rumah #2 (2015), Di Dalam Rumah #3 (2019), dan Tiga Puluh Menit Sebelum Senja (2020). Luna dan teman-teman perempuannya merintis Mirat Kolektif sebagai ruang aman untuk bertukar gagasan dan mencipta karya seni bersama-sama. Dua tahun terakhir aktif menyutradarai beberapa karya bersama Mirat Kolektif yang dipresentasikan dalam Work In Progress Djakarta International Theater Platform (2021), OpenLab Teater Garasi (2022), dan KalamPuan PENASTRI (2022). Selama 20 minggu ini mengikuti Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP) dan kini turut mengelola Etalase Pemikiran Perempuan 2022.

  • Naomi Srikandi

    Naomi Srikandi adalah seorang penulis dan pembuat teater yang karyanya meliputi tulisan dan pertunjukan yang menggunakan estetika sebagai kerangka kerja untuk menyelidiki pertanyaan tentang bagaimana gambar, suara, bahasa sehari-hari bertimbal-balik dengan politik. Selain mengelola Sekolah Pemikiran Perempuan, Naomi mendirikan dan mengelola Peretas–kependekan untuk perempuan lintas batas–organisasi yang bergerak melalui dan menuju politik solidaritas feminis antar perempuan pekerja seni di Indonesia dan yang lebih luas.

  • Margareth Ratih Fernandez

    Margareth Ratih Fernandez berdomisili di Yogyakarta. Setelah lulus dari prodi Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta pada 2016, ia bekerja sebagai periset dan editor freelance untuk beberapa LSM dan penerbit. Kurang lebih 3 tahun terakhir, ia bekerja penuh waktu sebagai staf redaksi di penerbit Buku Mojok sembari terus belajar menulis bersama teman-temannya di kolektif Perkawanan Perempuan Menulis.

  • Fathimah Fildzah Izzati

    Fathimah Fildzah Izzati bekerja sebagai peneliti di sebuah institusi yang dulu bernama LIPI. Bukan "si paling peneliti" meski meyakini bahwa melalui perannya sebagai peneliti, ia bisa menyumbangkan sesuatu (yang berarti) bagi perjuangan kelas dan pembebasan perempuan. Ia juga bekerja sukarela untuk sebuah media alternatif (sebagai editor) dan komunitas buruh perempuan. Mensupport sepenuh hati orang-orang terdekatnya adalah passionnya dan menjadi anak sholehah adalah cita-cita tertingginya. Silahkan lihat secuil buah pikirnya di linktr.ee/fathimahfildzahizzati.

  • Septina Rosalina Layan

    Septina Rosalina Layan, adalah pesuara, komponis dan musikologi budaya/cultural musicology serta dosen musik di ISBI Tanah Papua Jayapura. Ia juga salah satu pendiri dan anggota dari komunitas action Papua yang berbasis di Jayapura. Septina lahir dan dibesarkan di Merauke, pada 15 September 1989. Tahun 2014, ia menyelesaikan program sarjana seni dengan minat utama komposisi musik dari Institut seni Indonesia Yogyakarta. Tahun 2021, ia menyelesaikan program master seni (pengkajian musik) dari Pascasarjana ISI Yogyakarta.

    Sejumlah aktivitas bidang seni budaya telah dilakoni, di antaranya, masuk sebagai salah satu penulis dalam buku Membisikkan Bekal untuk Perjalanan yang Sangat Jauh-pendekatan feminis dalam kerja seni budaya, bersama organisasi Perempuan Lintas Batas (PERETAS); meraih Hibah Cipta Media Ekspresi- Riset/Kajian dalam program pendokumentasian lantunan tradisi Eb Suku Yaghai Mappi Papua; menampilkan karya komposisi musik “Devosi” (string kuartet dan perkusi-2012), “Suita Of Malind” (brass kwintet-2013), ''Ihin Sakil Somalae'' (Ratapan Cendrawasih) orkestra, paduan suara dan ansambel musik Papua (2014). Karyanya ''Noken” untuk film “Noken Rahim Ke dua” produksi Imaji Papua yang terpilih sebagai salah film dokumenter terbaik FFI 2021.