Pembicara | Speakers

  • Ama Gaspar

    Ama Gaspar, perempuan penulis yang sesekali menjadi editor. Ia juga aktif berkegiatan. Ama dan komunitas Babasal Mombasa menginisiasi Festival Sastra Banggai, sebuah acara tahunan di kotanya. Bersama komunitasnya, ia juga bergerak bagi kerja-kerja kemanusiaan untuk literasi, pendidikan, kebudayaan, dan lingkungan. Ia juga aktif di Puan Seni Indonesia, berhimpun bersama perempuan pekerja seni di seluruh Indonesia. Saat ini, ia dan komunitasnya sedang fokus menyiapkan beberapa program, bekerja sama dengan beberapa institusi swasta.

  • Anggun Pradesha

    Anggun Pradesha adalah Sutradara, Penulis, Seniman & Aktivis yang aktif memperjuangkan Isu Transpuan sejak dinobatkan sebagai Runner Up Miss Transchool 2011. Pengurus Sanggar Swara (2013-2018), Staf Keuangan PKBI Pusat (2018-2021), Pengurus Yayasan INTAN (2021-Sekarang)

    Karya-karya filmnya telah banyak diputar dan didiskusikan serta mendapat berbagai apresiasi dan penghargaan.

    Anggun juga menulis skenario dan berperan dalam film teatrikal dari cerpen karyanya "Penghakiman Nama" (2021), Ikut menulis buku kumpulan puisi "Puandemik Menulis" (2021) dan kumpulan cerpen "Parade Yang Tak Pernah Usai" (2022).

    Saat ini Anggun sedang persiapan melaunching karya film dokumenter terbarunya bersama Nia Dinata, Kalyana Shira Films.

  • Aulia Nabila Fal

    Aulia Nabila Fal atau akrab disapa Bella, yang merupakan seorang perempuan Tuli yang aktif sebagai aktivis Tuli dan juga lincah menulis dan berkesenian. Bella telah menerbitkan karya tulisan yang berjudul "Perempuan dan Tuli" di Girls Beyond, dan juga berpartisipasi karya bertema "Janji" dalam gelaran umum pameran 100 karya ilustrasi dalam mewujudkan hak-hak Tuli sebagai perempuan dan seniman Tuli yang setara. Bella juga merupakan salah satu pendiri & content designer FeminisThemis dan alumni Sekolah Pemikiran Perempuan 2023.

  • Bora Chung

    Bora Chung is a writer of science fiction and generally unrealistic stories. She also translates modern literary works from Russian and Polish into Korean. She has published four novels and five books of collected short stories in Korean. Among them, Cursed Bunny, a collection of short stories, was shortlisted for the 2022 International Booker Prize.

    Photo: ⓒ Hyeyoung

  • Carlin Karmadina

    Carlin Karmadina, pegiat Komunitas KAHE dan jurnalis lepas. Sejak 2019, bergabung di Maumere TV dan menulis untuk beberapa media terutama tentang keberagaman seksual dan perempuan dan anak. Sebagai pustakawan di Gata Pustaka, perpustakaan publik yang dikelola oleh Komunitas KAHE. Tahun 2023, menjadi action researcher dalam program Raising the Rainbow Stories, Komunitas KAHE. Turut mengelola laune.id, media online Komunitas KAHE.

  • Diah Irawaty

    Diah Irawaty adalah Aktivis dan Antropolog Feminis. Ia adalah Founder dan Koordinator LETSS Talk serta seorang Kandidat Ph.D. di State University of New York (SUNY), Binghamton, New York. Diah Irawaty atau Ira, adalah aktivis feminis dan antropolog feminis, Kandidat Ph.D. Sociocultural Anthropology di State University of New York (SUNY) Binghamton, New York, AS. Area risetnya meliputi new motherhood, new family, transnational family, migrasi transnasional, care work, pekerja domestik, dan antropologi uang.

    Ira mendirikan dan menjadi koordinator LETSS Talk (Let’s Talk about SEX n SEXUALITIES), forum komunitas didedikasikan untuk dokumentasi, produksi dan sirkulasi pengetahuan feminis. Ira pernah bekerja di beberapa organisasi feminis seperti SIKAP, Kalyanamitra, Rumpun Gema Perempuan, dan Komnas Perempuan serta pernah menjadi research analyst di Target-MDGS. Sambil menulis disertasi, Ira menjadi teaching assistant untuk beberapa mata kuliah antropologi.

  • Eka Putri Puisi

    Terlibat dalam kerja komunitas Katutura, yang konsen pada isu lingkungan dan seni budaya yang berbasis di Wakatobi. Ikut menginisiasi kolektif Perempuan di Wakatobi, Wa To'ombuti, yang mengusung perspektif perempuan dalam karya dan suara. Alumni Sekolah Pemikiran Perempuan 2022.

  • Ine Martha

    Martha Haran atau Ine Martha ialah seorang tokoh spiritual Komunitas Dayak Kayan Mendalam Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Ine Martha merupakan seorang Dayung Aya’ atau Imam Besar dalam upacara adat Dange. Selain itu, Ine Martha juga seorang Penelimaa atau Penutur Syair Telimaa, sastra lisan Kayan. Pada tahun 2021 Ine Martha tampil dalam Opera Ine Aya’ di Holland Festival bersama Balaan Tumaan Ensemble X World Opera Lab, yang merupakan kerja kolaborasi komposer asal Pontianak, Nursalim Yadi Anugerah (Yadi) dari Balaan Tumaan dan Libretist Miranda Lakerveld dari World Opera Lab Belanda. Tahun 2022 Opera Ine Aya' Indonesian Tour di 3 kota yakni Putussibau, Pontianak, dan Jakarta.

  • Ligia Giay

    Sering membaca, kadang menulis. Menempuh pendidikan di bidang ilmu sejarah, dan sekarang berstatus sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Jayapura. Sebelumnya melakukan penelitian tentang pencarian kerang mutiara di Kepulauan Aru pada masa kolonial Belanda.

  • Martha Hebi

    Martha Hebi lahir di Waingapu, Sumba Timur. Sejak 2003 ia bekerja di bidang pemberdayaan masyarakat Pulau Sumba. Proses kerjanya melahirkan refleksi tentang diskriminasi perempuan serta pengabaian terhadap nilai kemanusiaan dalam sejarah dan tradisi lokal. Bersama SOPAN Sumba, Martha melakukan perjumpaan dan mendengarkan suara hati penyintas dan pelaku Kawin Tangkap di Sumba.

  • Meena Kandasamy

    Meena Kandasamy is an activist, poet, novelist and translator. Her books of poetry include Touch and Ms Militancy, and she is the author of three acclaimed novels, Gypsy Goddess, When I Hit You and Exquisite Cadavers. In 2022, she was elected as a Fellow of the Royal Society of Literature (FRSL) and was also awarded the PEN Hermann Kesten Prize for her writing and work as a ‘fearless fighter for democracy, human rights and the free word.’ Her latest published work is The Book of Desire, a translation of the love poetry of Thirukkural.

  • Mirat Kolektif

    Mirat Kolektif didirikan pada 2018 di Surakarta. Berawal dari kebutuhan akan ruang aman untuk berbagi ide dan proses kreatif, Mirat Kolektif diciptakan sebagai wadah untuk belajar, berbagi ide dan gagasan, juga menciptakan ruang aman bersama untuk berlatih dan bereksplorasi bagi para pekerja seni. Mirat Kolektif tidak hanya berfokus pada seni pertunjukan, tapi juga membuka diri pada kemungkinan bentuk-bentuk kreatif lainnya. Karya Mirat Kolektif telah dipresentasikan, di antaranya “Sebuah Cerita Malam Ini" dalam Work in Progress Presentation Djakarta International Theater Platform 2021 yang merupakan pembacaan atas karya S. Rukiah, "Rapat Rukun Tetangga" karya ini diinisiasi oleh Luna Kharisma, dikerjakan bersama Mirat Kolektif, sebagai bagian dari program OpenLab Teater Garasi/Garasi Performance Institute 2022, "Sebuah Kabar dari Pelaminan" pembacaan dramatik naskah karya Udiarti sebagai hasil Program Penastri KalamPuan 2022, dan "Sebagian Pertemuan" pada program Cabaret Chairil Teater Garasi/Garasi Performance Institute 2023. Karya terbarunya adalah pembacaan peta jurnalistik S. Rukiah yang dipresentasikan di Monumen Pers Nasional, Surakarta dalam program Ephemera #3 IVAA (Indonesian Visual Art Archive) 2023.

  • Neng Tanthy

    Neng Tanthy, yang memiliki nama lengkap Maria Kristanthy Mien Sri, adalah seorang guru di sebuah SD negeri di Kabupaten Sikka. Selain mengajar, ia masih aktif berprofesi sebagai penyanyi untuk menambah penghasilan.

  • Pepe Roswaldy

    Perdana “Pepe” Roswaldy adalah kandidat doktor di bidang sosiologi dari Northwestern University. Riset Pepe berfokus pada transformasi sosio-ekonomi, lingkungan, dan spasial yang diakibatkan oleh ekspansi sawit di Indonesia sejak era penjajahan Belanda. Di waktu luang, ia suka bermalas-malasan, bersepeda, dan menonton drag.

  • Pitra Hutomo

    Pitra Hutomo adalah bagian dari kerja kolektif bersama Peretas, TaskForce KBGO, Hyphenㅡ, dan kelompok dukungan sebaya untuk keragaman gender dan seksualitas.

    Sebagai pekerja seni, pitra tertarik mendalami kronik penciptaan dan dimensi gender dan interaksinya dengan ekosistem seni budaya. Sedangkan sebagai anak zaman, pitra menggeluti jalinan psikososial dengan teknologi, baik dari aspek keselamatan dan keamanan, keterhubungan dan pertukaran, dan keadilan sosial dan lingkungan.

  • Rahmadiyah Tria Gayathri

    Rahmadiyah Tria Gayathri adalah seniman lintas media, praktisi komunitas dan peneliti independen untuk literasi bencana. Anggota pendiri kolektif bernama Forum Sudut Pandang sejak tahun 2016 berbasis di Kota Palu. Pengalaman kerjanya sebagai manajer seni di berbagai jejaring komunitas seni di Indonesia sejak tahun 2016, membuatnya terbiasa mengelola dan merancang program-program diantaranya pameran seni rupa, lokakarya, pertunjukan musik, dan residensi seni. Dia juga memproduksi beberapa film sebagai Sutradara & Produser.

  • Restiana Purwaningrum

    Restiana Purwaningrum ialah seorang penulis dari Kalimantan Barat yang telah menerbitkan novel Bumi Ayu (2019) tentang perempuan di tengah konflik agraria perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat. Ia juga menulis cerpen yang diterbitkan di berbagai media massa. Cerita pendek terbarunya yang berjudul Betang diterbitkan oleh InterSastra dalam serian Unrepressed atau melawan represi (2019-2020). Resti juga merupakan peserta dalam Peretas Berkumpul, Pakaroso ! (2019) yakni sebuah ruang pertemuan bagi para perempuan pekerja seni budaya dengan keragaman gagasan dan ekspresinya untuk mendiskusikan pengetahuan dan praktik seni budayanya secara kritis.

  • Rifka Dyah Safitri

    Rifka Dyah adalah Perempuan Tuli asal Jawa Tengah. Saat ini, ia menjadi Partnership dan Program Officer Komunitas FeminisThemis ID, Komunitas feminis Tuli yang mengemukakan masyarakat awam tentang diskriminasi dan kekerasan seksual yang dialami Perempuan Tuli. Ia memimpin project isu Lingkungan dan Kesetaraan Gender untuk Komunitas Tuli di Jawa Tengah. Keinginannya adalah menjadikan Komunitas dan Individu Tuli yang sadar dan kenal akan Lingkungan dan Gender.

  • Sunita Dyah Dewi Maharani

    Sunita Dyah Dewi Maharani akrab disapa Gandrung Reny. Ia juga bekerja sebagai guru vokasional kecantikan dan mengajari tarian Gandrung pada anak dengan hambatan pendengaran, yang ia beri nama GADIS (Gandrung Disabilitas).

  • Tyassanti Kusumo

    Lahir di Surakarta, Agustus 1996. Pernah jadi mahasiswi arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada dengan peminatan epigrafi Jawa Kuno. Menyelesaikan pendidikan pascasarjana studi Asia, masih dengan spesialisasi epigrafi Jawa Kuno di École Pratique des Hautes Études (EPHE, PSL) Paris pada 2022 dengan fellowship dari proyek riset DHARMA (ERC n°809994). Beberapa kali terlibat dalam proyek ekskavasi situs di area Jawa, penyusunan naskah akademik dan terakhir adalah riset epigrafi Jawa Tengah, kerja sama antara BRIN-EFEO (2023). Saat ini, di sela-sela mengampu tugas sebagai Staf Ahli Penataan Museum di Puro Mangkunegaran, Surakarta, juga sedang mengembangkan kanal media dan jurnalistik arkeologi Redaksi Lampau (lampau.in) bersama beberapa alumni arkeologi UGM guna mendiseminasi hasil penelitian arkeologi dalam bahasa lebih populer dan menghadirkan cerita di balik kerja-kerja kebudayaan.

  • Vina Adriany

    Vina Adriany merupakan profesor dalam bidang PAUD dan gender di Universitas Pendidikan Indonesia. Risetnya banyak berfokus kepada isu gender dan keadilan sosial di PAUD serta dampak neoliberalisme di PAUD. Kajiannya kebanyakan menggunakan kacamata feminis dan paska-kolonial.

    Saat ini ia tercatat sebagai bagian dari redaksi berbagai jurnal ilmiah internasional seperti editor di Pedagogy, Culture, Society Journal, Routledge dan anggota dewan redaksi di Policy Futures in Education, SAGE; International Journal of Early Years Education, Routledge; Global Childhood Studies, SAGE; dan Children and Society, Willey.

  • Yuli Riswati

    Yuli Riswati adalah mantan pekerja migran, penulis, fotografer lepas dan aktivis yang aktif memperjuangkan isu buruh. Ia mendirikan media komunitas Migran Pos dan Forum Independen Konseling BMI. Ia kerap menerbitkan tulisannya dengan nama pena Arista Devi. Bukunya yang telah terbit berjudul Empat Musim Bauhinia Ungu. Saat ini Yuli selain aktif menjadi pengurus pusat Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (KABAR BUMI), sebuah organisasi yang fokus pada advokasi, pendampingan kasus dan pemberdayaan buruh migran dan keluarganya, ia juga menjadi pengurus pusat Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU).

  • Yulia Dwi Andriyanti

    Yulia Dwi Andriyanti atau Edith (they/them) adalah queer, penulis, peneliti, penggerak komunitas dan konselor. Selama limabelas tahun terakhir menjadi kawan pendiri dan mengelola beberapa organisasi, salah satunya Qbukatabu, organisasi feminis-queer, berdiri pada 2017. Pendidikan terakhirnya S2 gender, seksualitas dan ketubuhan di University of Leeds, Inggris. Sejak 2020, Edith menekuni topik tentang pemikiran dan praktik perawatan queer. Ia memfasilitasi kelas perawatan diri, terlibat dalam beberapa komunitas berlatih, seperti komunitas WeSIS (Well Being, Self-Care dan Integrated Security), dan meditasi gerak dinamis 5Rhythms. Secara perlahan, ia menuangkannya melalui Queerinlife (@queerinlife atau https://queerinlife.com/). Tahun 2023, Edith terpilih sebagai Radical Love Fund fellow Mama Cash untuk melanjutkan inisiatif Queerinlife.

  • Yuni Shara Al Buchory

    Yuni Shara Al Buchory

    Mulai terlibat dalam pengorganisasian diawali pada tahun 2000 saat bergabung di PKBI DIY sebagai CO (Community Organizer) untuk komunitas Transpuan yang ada di DIY. Pada 2006, bersama empat teman Waria membangun dan mendirikan Yayasan Kebaya (Keluarga Besar Waria Yogyakarta). Sejak 2010, mulai berkegiatan di Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Al Fatah sebagai Sekretaris (selama dua periode saat ponpes masih dipimpin oleh Alm. Ibu Maryani dan Alm. Ibu Shinta Ratri). Pada Mei 2023, diberi amanah oleh teman-teman santri yang bergabung di ponpes waria untuk melanjutkan keberlangsungan ponpes sebagai Ketua.

  • Zahrotun Nafisah

    Zahrotun Nafisah adalah bagian dari tim redaksi Bincang Muslimah, sebuah platform digital yang membahas isu keislaman dari perspektif perempuan. Selain aktif menyuarakan isu keadilan gender dalam Islam, ia juga aktif menyuarakan isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan melalui konten tulisan dan audio visual.

  • Zulfah Nur Alimah

    Zulfah Nur Alimah completed her Masters program in Arabic Literary Criticism, Al Azhar University, Cairo in 2021. Currently, Zulfah mainly translates for the Egyptian government's radio program, where she has worked since 2015. Zulfah also works as a freelance translator. She has translated several books of the Egyptian Ministry of Waqf as well as several Arabic literary works. Among the literary works she has translated are Dar Al-Adab (The Night Post) by Hoda Barakat and Sayyidat al-Qamar (Celestial Bodies) by Jokha Alharthi.

Pemandu Panel | Moderator

  • Asri Pratiwi Wulandari

    Ulan (Asri Pratiwi Wulandari) translates Japanese novels to Indonesian. Among others, she has translated works by Kawakami Mieko, Matsuda Aoko, and Tamura Toshiko. Sometimes she does other types of work in the book industry, such as writing fiction (short stories compilation "Yang Menguar di Gang Mawar") and editing. She is currently enrolled in a Master's Program in Gender Studies.

  • Astrid Reza

    Astrid Reza menempuh pendidikan studi sejarah di Universitas Gadjah Mada, dengan fokus studi terkait dengan Sejarah Pencitraan Gerwani. Menulis lepas di berbagai media, dari sastra sampai riset sejarah. Telah menerjemahkan berbagai buku bertema sosial, sejarah, feminisme dan sastra. Saat ini terlibat sebagai anggota aktif RUAS (Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan) di Yogyakarta.

  • Dewi Rosfalianti Azizah

    Dewi Rosfalianti Azizah (1996) adalah alumni Sekolah Pemikiran Perempuan 2023 dan sedang menempuh pendidikan S2 di University of Texas at Austin, jurusan Communication Studies. Risetnya fokus pada kajian retorika di isu gender dan feminisme, diaspora dan liminalitas, serta gerakan sosial keagamaan di Global Selatan. Kini, ia sedang mengerjakan proyek tesis tentang feminisme Islam dan kiprah ulama perempuan di pondok pesantren di Indonesia.

  • Fathimah Fildzah Izzati

    Fathimah Fildzah Izzati adalah PhD Candidate di bidang Development Studies dari SOAS University of London. Fokus penelitiannya menyoal reproduksi sosial dan problem krisis ekologis di daerah-daerah industri di Indonesia. Keterlibatan aktifnya di gerakan buruh dan sosial Indonesia semenjak ia menjadi mahasiswa S1 di UI telah membentuk dan meneguhkan komitmen personal, politik, dan intelektualnya untuk pembebasan kelas pekerja, khususnya perempuan kelas pekerja.

  • Halida Bunga Fisandra

    Halida Bunga Fisandra (1996) adalah research fellow di Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia. Dida memperoleh sarjana seni di Penciptaan Musik, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta dan meraih gelar master Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Kajiannya mengangkat topik orkestra, bertajuk Musik sebagai Teknologi: Mediasi Bunyi Orkestra di Keraton Yogyakarta (2022), dan artikel terkait lainnya, seperti Orkestra sebagai Peristiwa Mediasi: Jakarta City Philharmonic, Tubuh dan Materialitas (2022) dan Cyborg Orchestra: Pandemi, Teknologi, dan Peristiwa-Peristiwa Musikal (2023). Kajian lanjutan lainnya, yakni Monarch’s Orchestra: The (Im)possibilities of Music Decolonization in Contemporary Indonesia (2023) dipresentasikan di konferensi Music’s Institution and The (De)colonial di Universitas Lund, Swedia bersama kolaboratornya, Aryo Danusiri. Dida merupakan co-founder dan head of community komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab.

  • Himas Nur

    Himas Nur (she/her) adalah seorang penulis fiksi, jurnalis, dan periset. Menyelesaikan program Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Semarang, serta Magister Kajian Budaya dan Media di Universitas Gadjah Mada. Puisi, cerpen, esai, reportase, serta artikel akademiknya fokus pada wacana queer, feminisme, krisis ekologi, kesehatan mental, dan hak asasi manusia. Kini tengah menyiapkan buku tunggalnya, “Menjelajahi Diri, Memeluk Intimasi: Kajian Panseksualitas di Indonesia” yang akan terbit tahun ini.

  • Intan Paramaditha

    Intan Paramaditha is an Indonesian author and a Senior Lecturer in Media and Film Studies at Macquarie University, Sydney, and a co-founder and co-organizer of Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP). She just published her new novel, Malam Seribu Jahanam (GPU 2023). Her novel The Wandering, was awarded the Tempo Best Literary Fiction in Indonesia, translated from the Indonesian language (Gentayangan) by Stephen J. Epstein, published by Harvill Secker/ Penguin Random House UK; this novel has won awards such as English PEN Translates Award and nominated for The Stella Prize. Some of her short stories in Sihir Perempuan, a finalist in Kusala Sastra Khatulistiwa 2005, have also been translated and published in the collection of horror short stories Apple and Knife (Harvill Secker 2018).

  • Ishvara Devati

    Ishvara Devati adalah seorang seniman trans dari Indonesia. Dia mengeksplorasi potensi dinamis dari seni pertunjukan dan performans dengan mengintegrasikan berbagai media yang unik secara fisik berdasarkan pengalaman, realisme dan virtuositas. Dia tertarik pada aspek relasional, material dan linguistik sebagai titik tolak untuk memaksa pertemuan dan/atau ketidakcocokan antara pengalaman dan emosional (tak tersentuh) serta fisik dan objek (tersentuh).

  • Lisabona Rahman

    Lisabona Rahman menempuh studi pelestarian dan presentasi gambar bergerak. Ia membuat ceramah performatif dan pemutaran film-film tua. Pendekatan yang digunakannya berasal dari persimpangan minat pada sejarah dan praktik sinema di masyarakat dan pengalaman kolonial, jaringan transnasional dan kerja puan. Lisabona secara aktif ikut dalam sirkulasi pengetahuan antara para feminis, terutama di wilayah kepulauan Nusantara.

  • Naomi Srikandi

    Naomi Srikandi adalah seorang penulis dan pembuat teater yang karyanya meliputi tulisan dan pertunjukan yang menggunakan estetika sebagai kerangka kerja untuk menyelidiki pertanyaan tentang bagaimana gambar, suara, bahasa sehari-hari bertimbal-balik dengan politik. Selain mengelola Sekolah Pemikiran Perempuan, Naomi mendirikan dan mengelola Peretas–kependekan untuk perempuan lintas batas–organisasi yang bergerak melalui dan menuju politik solidaritas feminis antar perempuan pekerja seni di Indonesia dan yang lebih luas.