Etalase Pemikiran Perempuan 2023

Konser Ceramah: Meraya Suara Telimaa dan Nyanyian Sikka
Peserta:
Ine Martha
Neng Tanthy
Carlin Karmadina
Restiana Purwaningrum
Pemandu: Halida Bunga Fisandra


Rantau: Women in Translation
This panel is in English with Indonesian translation.
[Klik judul panel untuk melihat versi Bahasa Indonesia]
Speakers | Pembicara:
Bora Chung (Korea)
Zulfah Nur Alimah (Indonesia)
Meena Kandasamy (UK)
Moderator | Pemandu: Intan Paramaditha & Asri Pratiwi Wulandari

Pengantar Tidur
Penampil:
Aulia Nabila Fal (Bahasa Isyarat)
Rifka Dyah Safitri (Bahasa Isyarat)
Mirat Kolektif (Musikalisasi Puisi)
Pemandu: Naomi Srikandi & Ishvara Devati

Panggung Kerja Berjalan: Himpunan
Pembicara:
Diah Irawaty
Anggun Pradesha
Yulia Dwi Andriyanti
Pitra Hutomo
Pemandu: Lisabona Rahman

Bongkar Kata
Pembicara:
Pepe Roswaldy membongkar kata “Alam”
Vina Andriany membongkar kata “Anak”
Ligia Giay membongkar kata “Rumah”
Yuli Riswati membongkar kata “Rawat”
Pemandu: Himas Nur & Dewi Rosfalianti Azizah

Riwayatmu, Puan
Periwayat:
Ama Gaspar meriwayatkan Alm. Lily Yulianti Farid
Tyassanti Kusumo meriwayatkan Alm. Sumijati Atmosudiro
Yuni Shara Al Buchori meriwayatkan Alm. Shinta Ratri
Sunita Dyah Dewi Maharani meriwayatkan Alm. Supinah
Pemandu: Lisabona Rahman & Astrid Reza

Panggung Pembuka: Kerja-kerja yang Tak Dianggap Kerja
Pembicara:
Martha Hebi
Rahmadiyah Tria Gayathri
Moderator: Fathimah Fildzah Izzati
Konser Ceramah
Dalam Konser Ceramah: Suara Lima Fofine, lima puan berkolaborasi menyusun narasi, lirik lagu, musik, serta visual ketubuhan/koreografi untuk merespons secara kritis cerita rakyat Wakatobi “Wa Khaka Kene Palahidu”.
Cerita ini berkisah tentang seorang perempuan yang menjadi alat tukar antara suaminya–seorang nahkoda–dan penyelamat kapal karam sang suami. Sepanjang cerita, dibandingkan para tokoh lelaki, perempuan ini dibuat tak bernama, juga tak bersuara. Narator menghadirkannya sebagai objek. Kita dapat membayangkannya sebagai seorang budak, yang dibeli oleh sang nahkoda, lantas dengan mudah dilepasnya kembali. Melalui karya ini, para puan kolaborator memberinya nama “Fofine”, kata dari bahasa Wakatobi yang berarti “Perempuan”.
Penampil:
Dewi Kharisma Michellia
Eka Putri Puisi
Gema Swaratyagita
Kartika Solapung
Pemandu: Septina Layan
Manifesto Sekolah Pemikiran Perempuan: Tentang Keluarga
Sekolah Pemikiran Perempuan percaya bahwa membayangkan masa depan yang lebih adil adalah menggugat dan mereka ulang imajinasi tentang keluarga. Kami menawarkan gambaran masa depan yang bertumpu pada semangat kolektif, solidaritas, dan kasih sebagai kekuatan meretas pagar-pagar kapitalis, patriarkis, dan heteronormatif.
Manifesto ini ditulis bersama pada Februari 2022 oleh Fathimah Fildzah Izzati, Intan Paramaditha, Lisabona Rahman, Ni Putu Dewi Kharisma Michellia, Raisa Kamila sebagai bagian dari kerja kolektif Sekolah Pemikiran Perempuan, dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Rara Rizal dan Syarafina Vidyadhana.
Versi bahasa Inggris manifesto ini pertama kali dibacakan dalam “A Scenario for Togetherness”, sebuah pertunjukan dan sinema hidup berdurasi 40 jam, inisiatif dari Ayreen Anastas, Adania Shibli, dan Rene Gabri di FFT (Forum Freies Theater) Düsseldorf pada 7 Mei 2022 lalu. Etalase 2022 menjadi forum pertama pembacaan manifesto tersebut dalam bahasa Indonesia.
Rantau: Refugees and Knowledge Production
This panel explores how knowledge is produced through the experience of forced migration. We will focus on how women refugees capture their experience of displacement, reinvent homes and lives, recontextualize their identities, and utilize art—from writing to filmmaking—as a tool for surviving, resisting, and community making. Looking at the refugee discourse from a feminist perspective, particularly through the lens of “feminist refugee epistemology” (Espiritu and Duong), this panel will discuss refugee women writers and artists as producers of knowledge. What stories do women tell, and for whom? How do they respond to the dominant knowledge about refugees, including narratives that are centered on refugees as victims or threats? What does it mean to listen to the knowledge produced by refugees in a feminist way?
This panel is in English with Indonesian translation.
[Klik judul panel untuk melihat versi Bahasa Indonesia]
Speakers | Pembicara:
Lan Duong
Warsan Weedhsan
Elahe Zivardar
Moderator | Pemandu: Intan Paramaditha
Pengantar Tidur
Pengantar Tidur merupakan serangkai pembacaan karya-karya fiksi terkini yang ingin mengajak kita merenungkan kenyataan yang menggelisahkan, proses yang digeluti, maupun cara bertutur para perempuan dalam berkisah, yang subversif atas tradisi produksi pengetahuan arus utama.
Dalam edisi Pengantar Tidur tahun ini, kita akan menyimak rangkaian pembacaan karya fiksi yang menunjukkan keragaman Indonesia dari perspektif feminis dengan pendekatan interseksional.
Penampil:
Riyana Rizki
Mariati Atkah
Himas Nur
Pemandu: Margareth Ratih Fernandez
Panggung: Kerja Berjalan Penelusuran Para Puan
Penelusuran figur perempuan dalam sejarah seni dan film di Indonesia pasca Reformasi di Indonesia memiliki tantangannya sendiri. Peneliti berhadapan dengan minimnya materi arsip dan harus menempuh jalan putar, memperkaya spekulasi yang imajinatif untuk bisa merangkai sosok perempuan dan agensinya dalam skena seni dan film di Indonesia.
Panel ini akan membahas metode kerja penelitian sejarah perempuan dalam seni rupa dan film. Di dalam panel ini, para peneliti akan berbagi temuan dan kegelisahan dalam menjalankan kerjanya.
Pembicara:
Kelas Liarsip (Umi Lestari & Efi Sri Handayani)
Hyphen— (Akmalia Rizqita “Chita,” Grace Samboh, Ratna Mufida)
Pemandu: Heidi Arbuckle-Gultom
Bongkar Kata
Forum ini berupaya mengurai beberapa konsep pemikiran dari perspektif feminis lewat diskusi publik berbasis kata/istilah populer. Membongkar istilah atau kata yang kerap didengar di publik akan membantu kita bersama-sama melihat, menyikapi, dan melampaui situasi-situasi masyarakat kontemporer dengan cara yang kritis.
Dalam edisi Bongkar Kata tahun ini, kita akan menyimak rangkaian ceramah pendek seputar sejumlah kata yang saling terhubungkan dalam konsep keluarga. Kata-kata yang dibongkar kali ini adalah ‘keluarga’, ‘ibu’, ‘janda’, dan ‘hijrah’.
Pembicara:
Rully Mallay membongkar kata “Ibu”
Magdalena Sitorus membongkar kata “Janda”
Amar Alfikar membongkar kata “Hijrah”
Pemandu: Cecil Mariani, Luna Kharisma, dan Ilda Karwayu
Riwayatmu, Puan
Riwayatmu, Puan adalah forum untuk merayakan pencapaian, berbagi pemikiran dan bersama menolak penyingkiran perempuan dari pencatatan sejarah. Acara ini adalah upaya untuk menghidupkan jejak dan warisan pengetahuan yang ditinggalkan para puan dan telah mempengaruhi bidang seni budaya serta pemikiran feminisme Nusantara.
Penelusuran kembali riwayat para puan diikuti lewat sudut pandang mereka yang berprofesi serupa atau berhubungan demi mengupayakan estafet pengetahuan lintas generasi.
Periwayat:
Yulia Dwi Andriyanti meriwayatkan Syarifah Sabaroedin (Feminis radikal Indonesia; Pencetus kata "pelecehan seksual" dalam wacana feminisme di Indonesia)
Anggun Pradesha dan Kanzha Vinaa meriwayatkan Vivian Rubianty (Perias profesional, pedagang busana; Transpuan pertama yang berhasil memperjuangkan status legal identitasnya)
Aura Asmaradana meriwayatkan Saadah Alim (Penulis, penyair, wartawan)
Pemandu: Lisabona Rahman & Keni Soeriaatmadja
Registrasi | ZOOM | YouTube
Panggung: Refleksi UU TPKS
RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) menempuh perjalanan panjang sejak diusulkan secara formal pada 2012. Para pejuang HAM dan gerakan perempuan telah melakukan beragam cara dalam mengadvokasi pengesahan RUU ini, salah satunya melalui seni budaya. Melalui panel ini, kita tidak hanya akan merayakan tetapi juga merefleksikan kerja-kerja yang telah dilakukan, terutama bagaimana merawat semangat, kekuatan, kesolidan, dan tindak lanjut pasca disahkannya UU TPKS pada 13 April 2022 lalu.
Pembicara:
Andy Yentriyani
Asfinawati
Insany Syahbarwaty
Linda Tagie
Pemandu: Citra Maudy
Registrasi | ZOOM | YouTube