bell hooks: Sebuah Pesan tentang Kekuatan Cinta
oleh: Citra Maudy Mahanani, Dewi Kharisma Michellia, Eka Putri Puisi, Ilana Avanindra, dan Septina Rosalina Layan
Terkadang orang mencoba menghancurkanmu, justru karena mereka menyadari kekuatanmu–bukan karena mereka tak melihat kekuatan itu, melainkan karena mereka melihatnya dan mereka tak ingin kamu memiliki kekuatan itu.
– bell hooks
“Saat kita kecil, hidup terasa tak layak dijalani lantaran kita tak mengenal cinta. Aku kemudian menyadari ini, karena cinta lantas hadir di hidupku. Ketidakhadiran cinta pada masa laluku menyadarkan betapa pentingnya ia bagiku saat ini. Aku putri pertama Ayah. Saat kelahiranku, aku dipandang penuh cinta kasih, dihargai, dan dibuat seakan aku diinginkan di bumi, di rumahku. Tetapi sampai hari ini, aku tidak bisa mengingat lagi, kapan perasaan dicintai itu mulai meninggalkanku? Aku hanya tahu bahwa suatu hari, aku merasa tidak lagi berharga. Mereka yang awalnya mencintaiku telah berpaling. Absennya pengakuan dan perhatian mereka telah menusuk hatiku dan meninggalkanku dengan perasaan patah hati yang begitu dalam hingga terasa kosong tak bersisa,” tulis Gloria Jeans Watkins atau akrab disapa bell hooks, dalam buku All about Love halaman ix.
Cinta adalah perkara serius bagi bell hooks. Bagaimana dengan kita? Pernahkah kita sesekali mengakui, betapa sulitnya untuk mencintai dan dicintai? Sadarkah kita bahwa, belakangan, seiring dengan hidup yang terasa semakin berat, kita semakin jarang mengutarakan cinta? Kita tak tahu bagaimana mengekspresikan cinta, ataupun memberinya, menerimanya; kendati diam-diam tetap terus mencarinya.
Kita menjalani keseharian dengan orang-orang yang mengatakan pada kita bahwa cinta tak lagi berarti. Hidup menjadi terasa seperti sumur yang kering. Hanya pada film, musik, majalah, dan buku kita bisa sesekali berpaling untuk mengintip kerinduan insan manusia akan cinta. Tak jarang, barangkali, kita akan merasa bahwa cinta adalah perkara picisan, ungkapan yang mendayu-dayu. Padahal, untuk dapat mencintai dan dicintai, kita harus berhadapan pada kontradiksi itu: menghadapi kelemahan diri yang mengantarkan pada kekuatan cinta. Kita harus dapat membuka diri, mengekspresikan dan membagikan sisi paling lemah diri kita, membiarkan sisi gelap diri kita dilihat dan dikenali, lantas disentuh dan dibebaskan. Sayangnya, kita kerap takut menjadi lemah. Sebaliknya, dalam hidup yang keras ini, kita pikir kita harus kuat. Kita harus mampu menutup sisi gelap dan sisi lemah diri kita. Kita pikir kita harus mampu menerjang berbagai badai, seorang diri. Sangat berat bagi kita untuk menjadi lemah, untuk dapat mencintai dan dicintai.
Pertemuan kami dengan kiprah dan karya bell hooks menyadarkan betapa pentingnya kemampuan untuk mencintai dan dicintai. bell hooks agaknya sadar akan krisis cinta dalam masyarakat kita hari ini. Dalam buku All about Love, ia mengatakan bahwa perenungannya akan kematian menjadi subjek yang selalu membawanya kembali pada cinta.
Ia bercerita bahwa semangatnya mendalami cinta muncul saat ia kali pertama mendapati dirinya mengidap kanker. Mulanya karena ia tak siap menghadapi kematian sebelum menemukan cinta yang selama ini dicarinya. Karena itulah ia terus menggali, bertanya, dan mencari. Pada akhirnya, ia tahu bahwa cintalah yang selama ini menguatkannya dalam perjalanan itu. Ia bukan tak mudah ditemukan. Ia mendasari setiap laku kita.
Agaknya cinta sudah menjadi jangkar di setiap karya bell hooks. Sesekali, ia menyematkan pesan dan harapan, kita bisa “hidup dalam budaya yang mengembangkan rasa cinta.” Hanya dengan membiarkan sebuah tindakan datang atas dasar cinta, perubahan bisa terjadi. Namun, dapatkah kita mengandaikan hal yang sama?
Mari mula-mula kita melihat dari sistem yang berlaku di sekeliling kita. Pengalaman perempuan dengan sistem yang menindas dalam kehidupan mereka sehari-hari jelas berbeda antara satu dengan yang lain. Dari sini, bell hooks ingin kita melihat kenyataan bahwa terdapat berlapis-lapis permasalahan perempuan—di sini, di sana, di seluruh dunia. bell hooks menawarkan gagasan kritis dalam feminisme dengan mempertegas kembali kompleksitas yang dialami perempuan dari seluruh dunia yang perlu ditelusuri dalam konteks global dan historis.
Posisi bell hooks sensitif terhadap karakter relasional dari struktur yang memberi pengaruh pada tatanan sosial. Dua tema yang menonjol dari karyanya adalah desakan bahwa feminisme punya potensi untuk memperbaiki kehidupan semua orang, tidak hanya yang berjenis kelamin perempuan; serta komitmen menemukan cara untuk secara kolektif mengatasi struktur yang menindas yang dapat berdampak pada dehumanisasi dan lingkungan yang tidak adil.
Maka, Mungkin, Kita Bisa Memulainya dari Sini
“Cinta selalu menjadi sebuah fantasi di budaya populer. Mungkin inilah penyebab dari banyaknya laki-laki yang berteori tentang cinta. Fantasi telah menjadi ranah mereka, baik dalam lingkup produksi budaya maupun kehidupan sehari-hari. Fantasi laki-laki dipandang sebagai sesuatu yang dapat menciptakan kenyataan, sementara fantasi milik perempuan bagi mereka hanyalah murni sebuah pelarian,” tulis bell hooks di halaman xii.
bell hooks menggambarkan bahwa pemaknaan masyarakat akan cinta terbentuk berdasarkan pemahaman akan gender yang telah tertanam di alam bawah sadar. Dalam perjalanannya meninjau literatur tentang cinta, ia melihat betapa sedikit penulis, baik laki-laki atau perempuan, yang berbicara tentang dampak patriarki dan dominasi laki-laki yang menghalangi perempuan dan anak-anak untuk dapat merasakan cinta yang membebaskan.
Sayangnya, kesadaran ini tak menjangkau banyak orang. Pada tahun-tahun itu, feminisme di Amerika Serikat, sebagai salah satu gagasan yang berpotensi mengupasnya, justru tak bersuara apa pun tentang ini. Menurut bell hooks, ini terjadi lantaran teori-teori feminisme yang berkembang saat itu tidak datang dari kaum perempuan yang paling menjadi korban penindasan seksis; perempuan yang sehari-hari dihajar secara fisik, mental, dan spiritual, ataupun perempuan yang tidak berdaya mengubah kondisi hidupnya.
Oleh para feminis ketika itu, penderitaan semua perempuan dianggap sama. Betty Friedan adalah salah satu dari sekian banyak yang berpikir begitu. Ia mengatakan, ”Kita tidak bisa lagi mengabaikan suara dalam diri perempuan yang mengatakan: saya ingin sesuatu yang lebih dari sekadar suami, anak-anak, dan rumah saya.” Yang Friedan maksudkan adalah semata-mata keinginan perempuan untuk dapat meniti karier. Pernyataannya ini dengan jelas mengabaikan keinginan atau tuntutan perempuan-perempuan dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda darinya.
“Dia tidak membahas mengenai siapa yang diminta untuk merawat anak-anak dan mengurus rumah, terutama jika lebih banyak perempuan seperti dirinya dibebaskan dari pekerjaan rumah mereka dan diberi akses yang setara dengan lelaki kulit putih dalam konteks profesi. Dia tidak bicara tentang kebutuhan perempuan tanpa suami, tanpa anak, tanpa rumah. Dia mengabaikan keberadaan semua perempuan non-kulit putih dan perempuan kulit putih yang miskin. Dia tidak memberi tahu pembaca, apakah lebih memuaskan hidup menjadi pembantu, babysitter, pekerja pabrik, pegawai, atau pelacur daripada menjadi ibu rumah tangga dari kelas sosial yang berlimpah waktu luang?” jelas bell hooks dalam bab 1 buku Feminist Theory from Margins to Center yang terbit tahun 1994.
Bagi bell hooks, fokus dari gerakan feminis tak sesederhana perkara kesetaraan sosial di antara jenis kelamin. bell hooks adalah seorang feminis interseksional, yang menempatkan pentingnya pemahaman klasifikasi sosial seperti ras, gender, identitas seksual, dan kelas. Dia bersikeras bahwa perjuangan untuk hak-hak perempuan harus memperhitungkan pengalaman kelas pekerja dan perempuan kulit hitam, harus mengedepankan rasa-merasa dalam perjuangannya untuk mencapai pembebasan.
Sepanjang hidupnya, dia menulis sekitar 30 buku, mencakup kritik sastra, fiksi anak-anak, memoar, dan puisi–tidak hanya tentang pendidikan, kapitalisme, atau sejarah Amerika, tapi juga tentang cinta dan persahabatan. Ia kali pertama menggunakan nama pena bell hooks (semua ditulis dengan huruf kecil) dalam buku kumpulan puisinya yang terbit pada 1978, And There We Wept, sebagai penghormatan kepada nenek buyut maternalnya, Bell Blair Hooks, dengan penekanan, “Supaya orang membaca substansi bukunya, bukan siapa yang menulis.
Bagi hooks, pengalaman “keperempuanan” (womanhood) tidak dapat direduksi menjadi pengalaman tunggal, tetapi harus dipertimbangkan dalam kerangka yang mencakup ras dan kelas, atau bahkan mencakup dimensi yang lebih luas lagi. Buku hooks yang paling fenomenal, terbit pada 1981, Ain’t a Woman?:Black women and feminism membahas soal interseksi/titik pertemuan antara seksisme dan rasisme yang menempatkan perempuan kulit hitam dalam struktur terendah masyarakat Amerika Serikat. Dengan ini, dia menyerukan bentuk baru feminisme yang mengakui perbedaan dan ketidaksetaraan di antara perempuan sebagai cara untuk menciptakan gerakan baru yang lebih inklusif.
bell hooks sangat memegang teguh keyakinan bahwa kita perlu menjelajahi berbagai aspek yang membentuk realitas politik perempuan, yang membentuk senyata-nyatanya realitas kehidupan kita. Penindasan ras dan kelas harus diakui dan disisir sebagai isu feminis yang sama relevannya dengan seksisme. Sikap-sikap yang terlalu menyederhanakan kompleksitas dengan menyebut-nyebut bahwa feminisme semata-mata sebagai gerakan “memusuhi laki-laki” harus direfleksikan ulang. Kita sendiri pun perlu memeriksa diri, seperti apa sistem dominasi itu bekerja dan bagaimana peran kita dalam pemeliharaan dan pelestarian dominasi itu.
Feminisme Semua Kalangan: Petualangan Intelektual bell hooks
Saat ia wafat pada akhir 2021 lalu, banyak orang menuliskan surat cinta untuk bell hooks. Mereka menyuarakan hal yang sama: bell hooks telah mengubah kehidupan banyak perempuan dan gadis kulit hitam.
"Kita, perempuan kulit hitam yang mengadvokasi feminisme adalah pionir. Kita membuka jalan bagi diri kita sendiri dan saudara perempuan kita. Kita berharap, seiring mereka lihat tujuan kita tercapai–tak lagi menjadi korban, tak lagi tidak dikenal, dan tak lagi takut–mereka akan berani dan melanjutkan perjuangan ini,” serunya dalam Ain’t I A Woman? Black Women and Feminism.
Pemikiran-pemikiran bell hooks juga memberi sumbangsih pada kajian media dan budaya visual. Ia mempopulerkan istilah oppositional gaze dalam kumpulan esainya berjudul Black Looks: Race and Representation (1992).
Di sana dijelaskan, para perempuan kulit hitam bukan hanya tidak direpresentasikan dalam media/film, melainkan juga tampak tidak punya kuasa untuk “menatap”. Karena itu, ia mengajukan konsep Tatapan Oposisi sebagai alat yang dapat digunakan orang kulit hitam untuk mengganggu dinamika kekuasaan. Jenis tatapan ini lantas direpresentasikan di media dengan mengembangkan sinema kulit hitam independen.
Selain perihal tatapan untuk melawan, ia juga membahas pendidikan sebagai alat untuk melawan. Dalam Teaching to Transgress: Education as the Practice of Freedom, bukunya yang terbit tahun 1994, dia menunjukkan sistem pendidikan Amerika yang dibangun untuk memadamkan perbedaan pendapat dan membentuk kaum muda menjadi buruh produktif. Sementara itu, bell hooks bersikukuh bahwa guru semestinya menunjukkan kepada siswa mereka bagaimana caranya menggunakan pengetahuan mereka untuk melawan.
Sistem patriarki yang mendarah daging di masyarakat sesungguhnya banyak dimulai dari rumah. Di dalam keluarga inti yang patriarkis, orang-orang selamanya dibuat bergantung pada sosok laki-laki—baik itu dalam figur ayah ataupun suami. Penormalan sistem keluarga seperti ini sering berubah menjadi lingkungan keluarga yang disfungsional. Tidak sedikit kita mendengar terjadinya kekerasan dan kekejaman di dalam keluarga semacam itu—yang membuat orang-orang di dalamnya takut, trauma, dan menutup diri saat keluarga itu tidak berjalan “sebagaimana mestinya”. Ini disampaikan bell hooks pada bab ketiga buku Ain’t I A Woman? Black Women and Feminism, terbit pada 1981.
Membaca karya-karyanya–mulai dari Feminist Theory: From Margin to Center; Yearning: Race, Gender, and Cultural Politics; hingga Ain't I a Woman: Black Women and Feminism–mengajak kita untuk lebih terbuka pada dunia perempuan yang teramat luas, dunia dengan kompleksitasnya. Setiap seruannya seperti membisikkan pesan pada kita bahwa kita bisa melakukan “sesuatu” bersama-sama dalam menghadapi penindasan oleh sistem dominan ini.
Pada kenyataannya, masyarakat masih menyimpan dan membawa serta sejarah panjang tentang penindasan ini. Masing-masing dari kita punya luka yang identik sekaligus rumit. Luka yang lantas membekaskan setiap ingatan gelap tentang perlakuan buruk pada kita ataupun orang-orang yang kita sayang—pada ibu dan leluhur perempuan kita, atau pada saudara kita, keponakan, dan anak-anak kecil yang kita kenal ataupun tidak. Dengan semua kondisi yang telah lama membuat kita tidak berdaya, asing, dan takut—bagaimana dan dari mana datangnya kekuatan untuk mencintai dan terbuka untuk dicintai?
Tumbuhlah dan Biarkan Cinta Merawatmu
Kita harus mengakui betapa sedikit yang kita tahu tentang cinta. Kita bingung dan kecewa atas tidak masuk akalnya cinta saat ia kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, sebanyak apa pun ia diajarkan berkali-kali. Semua luka yang kita punya sekarang, dan ketakutan kita tentang yang nanti, berujung pada semakin tertutupnya hati ini—seakan-akan mustahil bagi kita untuk bisa memberi atau menerima cinta lagi.
Mungkin, berulang kali pengetahuan kita tentang cinta akan diuji dengan pertanyaan-pertanyaan: apa yang seharusnya kita lakukan saat tumbuh besar dengan cinta yang kering? Apa yang harus kita lihat dan rasakan saat kita membekali diri dengan cinta? Siapa yang harus kita temui? Apa yang seharusnya kita lewatkan, pertahankan, dan tinggalkan dalam hidup supaya bisa menjalaninya?
Jauh sebelum ada istilah "fungsional" dan "disfungsional" untuk jenis keluarga, luka dan trauma telah membekas dan tersimpan dalam memori, meski tanpa definisi dan istilah. Sebagian luka dan trauma itu barangkali terwariskan, sehingga kita mengenal istilah ‘luka atau trauma antargenerasi’. Rasa sakit itu tidak hilang bahkan ketika orang tua kita atau kakek-nenek kita telah meninggalkan rumah. Mereka dan kita mungkin sekadar mencoba untuk menghibur diri dengan berpura-pura dan mencari-cari eskapisme, meski sayangnya kenyamanan tersebut tak bertahan lama. Sesekali kita mungkin berandai-andai: alangkah lebih mudah bila ada yang memberi tahu dan membantu kita tentang bagaimana dan apa yang harus kita lakukan terhadap luka dan trauma ini, bagaimana cara untuk mencintai dan dicintai?
Melalui tulisan ini, kami ingin berbagi padamu. Barangkali, tawaran bell hooks tentang cinta bisa menolong kita. Barangkali, ia bermaksud meraih dan menjangkau orang-orang seperti kita.
Meskipun kalimat ini bisa terdengar menohok, bell hooks sendiri pernah memperingatkan, “Tumbuh dewasa adalah proses belajar untuk bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi dalam hidup. Memilih untuk tumbuh berarti merangkul cinta yang menyembuhkan.” Dan perjumpaan kami dengan kalian melalui tulisan ini menandakan bahwa kita telah memilih untuk tumbuh.
bell hooks mendorong kita membangun “keluarga baru”. Keluarga yang kita bangun kelak bukan keluarga yang meninggalkan atau membuang mereka yang tidak kita inginkan lagi. Di sana, individu masih tetap menghadapi konflik, kontradiksi, saat-saat tidak bahagia ataupun penderitaan seperti halnya hari ini. Bedanya, semua itu dihadapi dan diselesaikan tanpa paksaan, tindakan mempermalukan, atau kekerasan.
Kita bisa melanjutkan membaca warisan karya-karya bell hooks, kita bisa memeriksa dan mencari tahu lebih dalam soal misteri ini. Yang pasti, bell hooks telah memungkinkan kami menggambar ulang tentang cinta. bell hooks telah membuat kami percaya pada cinta. Kami ingin kalian mengenalnya juga. Kami ingin pesannya sampai: tumbuhlah dan mari menjalani cinta bersama-sama.