Para Puan dan Dunianya: 6 Potret Pemikiran Perempuan

Sekolah Pemikiran Perempuan 2022 berlangsung pada 5 Februari hingga 2 Juli 2022, yang terbagi dalam tiga modul, Modul 1: Sejarah Pemikiran Feminis dalam 8 pertemuan, Modul 2: Politik Gender dalam Seni dan Budaya dalam 6 pertemuan, dan Modul 3: Aktivisme Kultural Feminis dalam 6 pertemuan. Para peserta kelas menyelesaikan penugasan berbeda dalam setiap modul. Keenam potret sederhana tentang para puan dan hidupnya ini adalah hasil akhir dari Modul 1, sebuah upaya penulisan kolektif tentang sosok puan yang dipilih.

Modul 1: Sejarah Pemikiran Feminis (5 Februari-26 Maret 2022) adalah modul yang difokuskan untuk membaca kembali pemikiran-pemikiran penting perempuan dalam konteks global dan lokal. Sejumlah nama ditawarkan, 24 peserta kelas terbagi ke dalam 6 kelompok memilih nama. Sepanjang paruh pertama kelas, 3 kelompok memaparkan hasil pembacaan mereka tentang pemikiran feminisme kulit berwarna dan interseksional, feminisme dunia ketiga dan transnasional, serta feminisme dekolonial. Selanjutnya, pada paruh kedua 3 kelompok lagi berfokus pada upaya mengumpulkan dan mempelajari pemikiran perempuan di Indonesia.

Hasil pembacaan mereka terhadap pemikiran para perempuan dalam konteks global maupun lokal di Modul 1 tersebut lantas menjadi pengantar bagi mereka untuk melanjutkan ke Modul 2: Politik Gender dalam Seni dan Budaya (9 April-21 Mei 2022). Berbekal pemahaman mereka masing-masing tentang para pemikir tersebut, dalam kelas-kelas Modul 2, para peserta mengaplikasikan teori-teori pemikiran tersebut pada praktik mereka dalam kerja-kerja di bidang seni dan budaya. Para peserta terlibat aktif dalam khazanah sastra, film, seni rupa, pertunjukan, teater, musik, tari—pembacaan kritis mereka terhadap teks pemikiran perempuan lantas dibenturkan dengan berbagai wacana, di antaranya perihal representasi gender dalam seni, mengapa banyak nama perempuan terhapus dari sejarah praktik kesenian di bidang-bidang tersebut, hingga bias gender yang dialami oleh para seniman perempuan dalam proses kuratorial, pemberian penghargaan, penulisan maupun pengarsipan sosok para seniman perempuan tersebut.

Tidak berhenti hanya di ranah teori maupun praktik individu, para peserta kelas kembali diajak untuk terlibat aktif dalam suatu kerja kolektif dengan menampilkan hasil pembelajaran mereka dari Modul 3: Aktivisme Kultural Feminis (28 Mei-2 Juli 2022). Enam panel ditampilkan dalam Etalase 2022 dengan dukungan Peretas (Perempuan Lintas Batas) sebagai mitra kerja: “Riwayatmu Puan”, “Panggung”, “Bongkar Kata”, Konser Ceramah, Rantau, dan Manifesto Sekolah Pemikiran Perempuan. 

Melalui enam panel itu, audiens diajak menyimak rupa-rupa “tugas akhir” para peserta Sekolah Pemikiran Perempuan 2022: narasi tentang riwayat hidup perempuan dalam sejarah seni budaya, diskusi tentang berbagai wacana penting dalam praktik seni budaya yang melibatkan para perempuan maupun isu sosial-politik lebih luas, ceramah yang dengan kritis membongkar kata kunci di ruang publik dengan perspektif feminis, perpaduan antara ceramah pemikiran perempuan dan musik, ataupun isu-isu feminis transnasional dalam dwibahasa, hingga ruang untuk menghadirkan pernyataan bersama tentang makna keluarga.

Dua modul terakhir, ataupun perwujudan Etalase 2022, tidak akan berjalan baik tanpa ditopang bahan bacaan para peserta dalam modul pertama. Sesuatu yang datang lebih mula, tetapi baru dibuka ke publik justru paling belakangan. Izinkanlah kami untuk kini menghadirkan keenam bahan bacaan tersebut, yang dituangkan oleh para peserta Sekolah Pemikiran Perempuan 2022 ke dalam sejumlah tulisan ringkas. Upaya mereka sederhana: menampilkan potret para pemikir perempuan yang menginspirasi mereka sepanjang berlangsungnya kelas, atau bahkan yang semangat maupun pemikirannya kini telah mereka bawa ke dalam ruang-ruang kehidupan masing-masing. Tentu dengan harapan, agar para pembaca tulisan ini akan memetik inspirasi pula dari pemikiran keenam puan.

Naskah-naskah berikut telah disesuaikan berdasarkan saran beberapa penanggap: Intan Paramaditha, Saras Dewi, Brigitta Isabella, Lisabona Rahman, dan segenap alumni Sekolah Pemikiran Perempuan. Masukan-masukan tersebut disampaikan secara tertulis maupun lewat diskusi saat para peserta mempresentasikan tulisan-tulisan dalam Modul 1 ini sepanjang kelas yang berlangsung pada 5 Februari-26 Maret 2022. Melalui publikasi tulisan-tulisan berikut, tentunya kami masih menantikan tanggapan ataupun masukan yang untuk selanjutnya dapat membantu kami memberi sumbangsih pada upaya produksi pengetahuan dari, oleh, dan tentang perempuan untuk dapat kami bagikan kepada seluas-luasnya masyarakat yang tertarik atau meminati perbincangan serupa.

Melalui tulisan “Linda Tuhiwai Smith: Siasat Melawan Penghancuran Identitas Indijenes”, Gema Swaratyagita, Martha Hebi, Riyana Rizki, dan Syifanie Alexander memperkenalkan sosok Linda. Linda adalah seorang indijenes Māori dengan perhatian khusus pada upaya membongkar penindasan kolonialisme dan imperialisme. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari penindasan, dan dengan demikian akses terhadap pengetahuan harus dibuka seluas-luasnya melalui proses dekolonisasi. Linda memperjuangkan kepentingan indijenes dalam berbagai ruang akademis, melalui penelitiannya yang diterbitkan dalam buku Decolonizing Methodologies: Research and Indigenous People, hingga membuka ruang-ruang kelas didampingi suaminya, Graham Smith. Melalui berbagai upaya dekolonisasi dalam dunia pendidikan tersebut, Linda ingin mendobrak berbagai pandangan buruk tentang indijenes dalam semangat solidaritas. Ia ingin indijenes tidak lagi ter(di)pinggirkan. 

Anna Hindom Anny, Christine Tolle, Ilda Karwayu, dan Lusiana Limono selanjutnya bersama-sama mengajak kita berkenalan dengan seorang pemikir perempuan dari negeri ini dengan semangat pembebasan serupa. Lewat “Marianne Katoppo: Dekolonisasi Perempuan Asia dalam Teologi”, mereka mengeksplorasi pemikiran Marianne Katoppo. Marianne adalah penulis dan pengajar teologi yang aktif menerbitkan berbagai teks kritis dengan perspektif perempuan dan pembebasan. Keberanian dan sikap kritisnya dibentuk oleh lingkungannya, baik dalam lingkup keluarga maupun keterlibatan aktif di sejumlah organisasi. Sejumlah tulisan Marianne mempertanyakan secara kritis rupa-rupa aturan gereja. Satu karyanya yang paling terkenal Tersentuh dan Bebas: Teologi Seorang Perempuan Asia, mempertanyakan posisi perempuan dalam diskursus teologi kekristenan. Selain melalui sederetan nonfiksi cemerlangnya yang bernadakan teologi pembebasan, publik juga mengenal Marianne melalui karya-karya fiksinya, di antaranya Raumanen, kisah menyentuh tentang perempuan yang mempertahankan harkatnya.

Dalam “bell hooks: Sebuah Pesan tentang Kekuatan Cinta”, Citra Maudy Mahanani, Dewi Kharisma Michellia, Eka Putri Puisi, Ilana Avanindra, dan Septina Rosalina Layan mengangkat sosok Gloria Jean Watkins atau bell hooks dengan gagasannya perihal feminisme semua kalangan. Mendaku sebagai seorang feminis interseksional, bell hooks lebih jauh menjelaskan pentingnya pemahaman klasifikasi sosial seperti ras, gender, identitas seksual, dan kelas untuk meninjau posisi perempuan di tengah masyarakat—atau bahkan meninjau posisi mereka yang terpinggirkan tanpa pandang jenis kelamin. Ia percaya bahwa feminisme punya potensi untuk memperbaiki kehidupan semua orang, tidak terkecuali. Melalui berbagai karyanya, ia berkomitmen menemukan cara untuk secara kolektif dapat mengatasi struktur masyarakat yang menindas. Ia menunjukkan betapa pentingnya bergerak secara kolektif dan mendefinisikan ulang tentang cinta. Warisan pemikiran bell hooks menekankan bahwa apa pun yang kita kerjakan harus berakar pada cinta yang mendalam bagi orang-orang di sekitar kita dan komitmen yang tak tergoyahkan untuk perjuangan.

“Saparinah Sadli: Kiprah dan Pemikirannya” oleh Fathimah Fildzah Izzati, Luna Kharisma, Maria Pankratia, dan Raudhatul Jannah menceritakan kiprah dan pemikiran Saparinah—suatu komitmen yang tak tergoyahkan untuk perjuangan perempuan, utamanya lewat mendirikan Pusat Kajian Wanita. Saparinah dikenal sebagai akademisi, motivator, mediator dan penggerak masyarakat, sekaligus pejuang HAM dan hak-hak perempuan. Mereka mengulik bagaimana Saparinah dengan prinsip dan penekanannya pada proses “menjadi” sepanjang hidupnya mewujudkan berbagai gagasannya. Berbagai kajian maupun aktivisme Saparinah berangkat dari refleksi perjalanan hidupnya. Lewat tulisan ini, mereka secara spesifik menjelaskan peran Saparinah dalam mengenalkan kesadaran baru tentang analisis gender serta kontribusi dan warisannya dalam gerakan perempuan serta akademik di Indonesia. Konsep “kemitrasejajaran” adalah gagasan penting Saparinah yang menyatakan bahwa hubungan gender harus berlangsung setara. Konsepnya ini membukakan kemungkinan untuk mendukung pengembangan jati diri perempuan serta melakukan reevaluasi mitos dan streotipe atas perempuan.

Dengan metode sederhana untuk membongkar “mitos” dan “stereotipe” perempuan dalam ekosistem politik, ekonomi, budaya, dan sosial, Françoise Vergès—sebagaimana dituturkan oleh Raisa Kamila, Rezky Chiki, dan Putu Sridiniari—berupaya melancarkan aktivisme radikal dalam garis perjuangan feminis dekolonial. Lewat tulisan ini, mereka memperlihatkan betapa Vergès memegang komitmen untuk berjuang, memahami kompleksitas, ambivalensi, tantangan, pengalaman penuh frustrasi karena seperti itulah makna feminis dekolonial baginya. Baginya, seorang feminis dekolonial menerima warisan perjuangan para perempuan dengan hati terbuka, mendengar dan mencatat, menyaksikan bagaimana benang-benang opresif merajut jejaring eksploitasi dan diskriminasi. “Pembelajaran”-nya itu tidak hanya ia tuangkan dalam tulisan akademis, Vergès juga aktif mengekspresikan gagasannya lewat medium film dan seni rupa—dan bekerja sama dengan seniman, aktivis, maupun akademisi kulit berwarna. 

Lewat “Jiwa yang Bebas: Warisan Toeti Heraty yang Tak Pernah Mati”, Kartika Solapung, Keni Soeriatmadja, Sri Wartati, dan Tyas Audi Farasadina menceritakan hidup Toeti yang tidak ingin dikotak-kotakkan dalam profesi atau bidang tertentu. Ia memiliki jiwa yang bebas—sebagaimana terlihat jelas sepanjang rentang hidupnya. Jiwanya yang bebas ini mengantarkan Toeti pada refleksi mendalam tentang hidup: “menjadi feminis tidak berarti harus menjadi martir”, ungkapnya suatu kali. Pengalaman hidup Toeti membuatnya percaya bahwa untuk menjadi seorang feminis, kita harus melihat konteks-konteks yang lebih spesifik dalam hidup sang puan, karena setiap perempuan akan menempati posisi berbeda dalam setiap fase kehidupan mereka. Tulisan ini menunjukkan kehidupan Toeti dalam berbagai lapisan dan fase kehidupannya: aktivismenya di dunia gerakan dengan mendirikan Jurnal Perempuan dan gerakan Suara Ibu Peduli, ketajaman penanya di dunia sastra utamanya melalui karyanya yang masyhur Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki, hingga petualangan intelektual Toeti sebagai pucuk tertinggi berbagai institusi akademis dengan pijakan awalnya melalui disertasi studi doktoralnya yang diterbitkan menjadi buku Aku dalam Budaya.

Satu benang merah dari gagasan keenam potret ini adalah peran mereka dalam menunjukkan perjuangan tak kenal lelah sosok Linda, Marianne, bell hooks, Saparinah, Vergès, dan Toeti dalam sejarah pemikiran dan gerakan perempuan, dalam lapangan aktivisme hingga ranah pendidikan, dalam karya fiksi maupun nonfiksi, dalam wujud teks maupun audiovisual—tidak terbatasi, tidak terkungkung, bebas dan membebaskan. Kami berharap semangat yang sama dapat ditangkap, direngkuh, dihidupi oleh para pembaca tulisan-tulisan ini. 

Pembacaan dan penulisan kajian ini adalah upaya untuk menyumbang lebih banyak bahan pemikiran feminis dalam bahasa Indonesia. Kita tahu, meski penutur Bahasa Indonesia ada lebih dari 160 juta jiwa, produksi bahan pengetahuan mengenai karya dan pemikiran para puan dalam bahasa ini masih amatlah sedikit. Semoga akan ada lebih banyak inisiatif serupa hadir di masa mendatang, kami akan dengan senang hati menanti tulisan tentang sumbangsih pemikiran Nadine Gordimer atau Nawal El Saadawi, juga Francisca Casparina Fanggidaej atau Sudjinah bagi perkembangan diskursus pergerakan perempuan di negeri ini. Untuk saat ini, semoga para pembaca dapat menikmati apa yang telah disajikan melalui keenam potret. Selamat membaca.

Dewi Kharisma Michellia
Penyunting dan Alumni Sekolah Pemikiran Perempuan 2022
Previous
Previous

Gloria Anzaldúa: Wacana Pengalaman Ketubuhan dan Aktivisme Spiritual

Next
Next

Linda Tuhiwai Smith: Siasat Melawan Penghancuran Identitas Indijenes